Konflik Suriah Telantarkan Kalangan Akademisi

0 67

160407062143_konflik_suriah_624x351_apBanyak kalangan yang bertanya, bagaimana rakyat Suriah membangun kembali negaranya setelah bertahun-tahun dilanda konflik peperangan. Saat krisis pengungsi Suriah menjadi pemberitaan utama di media-media, ada kisah lain yang luput dari sorotan. Mereka adalah kalangan intelektual yang bakal surut dari Suriah akibat konflik yang berkepanjangan. Keinginan para pelajar untuk menempuh pendidikan lebih tinggi di Suriah terputus karena konflik peperangan. Kaum civitas akademika berpencar ke negara-negara lain atau mengalami penindasan di negaranya. Menurut presiden Institute of International Education (IIE), Allan Goodman, permasalahan sebesar ini "belum pernah terjadi sebelumnya" dalam sejarah organisasi yang bermarkas di New York dan sudah berusia 100 tahun ini.

Menjelang meletusnya konflik pada 2011, tercatat ada 350.000 sarjana strata satu, serta para dosen dan profesor yang berjumlah lebih dari 8.000 orang. Saat itu, lebih dari seperempat kaum muda di Suriah melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas. Para pemberontak di luar kota Aleppo. Generasi Suriah telah kehilangan kesempatan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Lima tahun kemudian, sekitar 2.000 akademisi dan ratusan ribu siswa mendiami kamp-kamp pengungsi di Turki dan Yordania. Banyak di antara mereka yang hilang atau tewas di antara jutaan pengungsi Suriah. "Bahkan di Irak, banyak universitas yang tetap buka untuk melangsungkan kegiatan perkuliahan, meski para profesornya dibunuh dan terjadi kekerasan yang mengerikan, para mahasiswa juga masih terus belajar," kata Goodman. Namun lain halnya dengan Suriah. Di sana sejumlah perguruan tinggi seringkali menjadi target serangan dan dihancurkan.

Goodman mengatakan, masyarakat internasional baru menyadari beratnya masalah ini. Karena itu, kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi menjadi bagian dari pemulihan dan rekonstruksi pasca-perang. Sana Mustafa, mahasiswi asal Damaskus, Suriah: "Saya tidak kenal siapapun, saya tidak punya uang." Lembaga IIE ini bekerja untuk menyelamatkan kalangan intelektual dan pengungsi dari Suriah. Salah satunya, Sana Mustafa. Perempuan itu saat ini menempuh tahun terakhir pendidikan S1 di Bard College di New York. Dia pernah menjadi mahasiswi jurusan bisnis di Damaskus. Namun, dia ditahan oleh polisi rahasia Suriah usai ikut serta dalam demonstrasi anti-pemerintah pada 2011. Dia lalu dibebaskan dan pada 2013 pergi ke Libanon untuk ambil bagian dalam seminar-seminar bertema resolusi konflik dan pembangunan perdamaian.

Saat berada di sana, dia mendapat kesempatan untuk ikut dalam program AS-Timur Tengah di Roger Williams University asal Washington DC dan tiba di AS pada musim panas 2013. Albert Einstein adalah kalangan generasi akademisi pengungsi yang melarikan diri kunkungan Nazi Jerman. "Saya seharusnya tinggal di sini selama dua bulan, tapi ketika saya berada di sini ayah saya ditahan di Suriah." "Saya tidak bisa kembali. Ibu dan dua adik perempuan saya melarikan diri ke Turki. Kuliah saya sudah menginjak tahun keempat, tinggal satu semester lagi dan hampir selesai. Tapi saya tidak bisa melanjutkan, karena saya harus bertahan hidup."

"Saya mencoba untuk menemukan tempat berlindung, mencari tempat bernaung untuk tidur, dan untuk mendapatkan suaka politik. "Saya mulai berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Ada sembilan tempat yang saya singgahi dalam setahun. Saya selalu tidur di sofa, saya tidak pernah punya ranjang sendiri. Saya tinggal dengan bermacam-macam orang. Saya tidak kenal siapapun, saya tidak punya uang, sungguh, tidak ada. " Lalu ada lembaga beasiswa IIE yang membantunya mengajukan beasiswa - dan tempat dia kuliah saat ini menawarkan beasiswa penuh. Dr Talal al Mayhani, seorang ilmuwan kajian syaraf di Universitas Cambridge, bagian ilmu saraf klinis, meninggalkan Suriah pada tahun 2011. "Sebagai orang Suriah, yang bisa saya katakan adalah kami kehilangan kendali atas apa yang terjadi di negara kami, tapi saya tidak ingin menyalahkan siapa pun." "Saya pikir ada sejumlah beasiswa tersedia untuk membantu para pelajar di Suriah. Tapi ada begitu banyak rintangan, dan itu bukan hanya menimpa para akademisi. Para mahasiswa baik sarjana maupun pascasarjana telah kehilangan peluang selama bertahun-tahun."

"Hal ini telah mempengaruhi seluruh generasi."

Category: PENDIDIKANTags:

468x60

No Response

Leave a reply "Konflik Suriah Telantarkan Kalangan Akademisi"