Bidadari Senja dan Jeritan Anak Nusantara

0 148

Hanya kata kata biasa yang masih aku dengar hingga senja ini, dengan diiringi irama musik etnis suku pedalaman amazon, jemariku mulai menari, jiwaku terbang menggapai lautan awan putih yang berarak digiring oleh angin selatan

 

Duhai bidari senjaku, kebosanan jagad semesta yang mulai dipenuhi oleh manusia manusia topeng, kelembutan yang tlah berganti angkara, keluguan yang tlah berubah jadi nafsu buas untuk menerkam, sedang aku hanyalah insan yang lemah, yang bergelut dengan gejolak jiwa, walau kian membara, berontak dalam kata kata yang tak lagi mampu menggerakkan, walau hanya memutihkan dan mensucikan jiwa kebangsaan putera nusantara..

 

Rembulan muda, bintang bintang diawal malam, terbelenggu gumpalan awan senja ini, sesekali angin membawa butiran tetesan gerimis yang jatuh diantara dedaunan hijau yang kian menua dimusim mulai mengering. Raga yang tlah terbakar oleh sengatan matahari, menghitam dan tak lagi dikenali, tetesan keringat yang tak lagi berguna di negeri ini, sedang para penguasa mencipta rakyat untuk semakin tidak berdaya untuk melawan, dibodohkan, diadu domba, dan dikasih bau bau wangi yang membunuh, dan cerita cerita rekayasa kebohongan hanya untuk menyenangkan para konglo yang rakus dan menjerat leher para elit penguasa negeri ini.

 

Ya Nusantaraku
Hai bumi indah permai, air sungai yang terus mengalir, deru ombak yang terus bergelombang dilaut negeriku, rerumputan hijau dan bunga bunga yang terus bermekaran, alangkah ironis penduduk bangsa kita ini, bangsa yang pendatangnya kaya raya dan penduduknya diperhambakannya, bahkan tanah tanah kita direbutnya dan penguasa membekinginya. Dan air mata kita tak lagi berguna, jeritan kita hanyalah nyanyian sumbang kemiskinan yang tak lagi didengar mereka, walau terasa menyayat nyayat bagi yang masih berjiwa putih bermata jernih, berhati nabi.

 

JS.17
Cempaka Putih

Category: BUDAYA, NASIONAL, OPINI

468x60

No Response

Leave a reply "Bidadari Senja dan Jeritan Anak Nusantara"